Info Tampilan: Karena siklus Pawukon Bali berumur 210 hari tanpa pembagian "bulan", penanggalan Bali selalu dicetak mengikuti format *grid* bulan Masehi. Di bawah setiap tanggal terdapat informasi Wuku (Pawukon) yang sedang berjalan.

Kalender Bali (Saka & Pawukon)

Juni 2026
Min
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab

Kalender Hindu Bali adalah salah satu sistem penanggalan yang paling kompleks dan kaya secara budaya di dunia, karena uniknya sistem ini mengintegrasikan dua penanggalan paralel yang berputar secara independen sekaligus berdampingan. Struktur pertama merupakan sistem Pawukon, yakni sistem kronometri absolut warisan peninggalan asli Austronesia dan Jawa Kuno yang hanya berumur tepat 210 hari per siklusnya tanpa merujuk kepada pergerakan benda langit apapun. Struktur yang kedua adalah versi terlokalisasi dari Kalender Saka Hindu dari India, yang mengadopsi prinsip lunisolar dengan merujuk presisi tinggi terhadap fase rembulan (Purnama-Tilem) yang diharmonisasikan secara ketat terhadap transisi musim matahari menggunakan penambahan bulan sisipan (pengalantaka).

Siklus Pawukon di kalender Bali dipenuhi oleh rajutan roda-roda hitungan pekan yang menakjubkan, yang beroperasi serempak satu sama lain (mulai dari siklus 1 harian Ekawara, Dwiwara, Triwara, hingga berumur 10 harian Dasawara). Di dalam tenunan pola 210 hari inilah mayoritas perayaan monumental tradisi Bali dipetakan, seperti perayaan kemenangan darma (kebaikan) atas adarma (kejahatan) pada Hari Raya Galungan yang selalu jatuh secara absolut pada rentang waktu Rabu Kliwon Dungulan, disusul oleh perayaan Hari Raya Kuningan yang dirayakan tepat 10 hari sesudahnya. Hitungan mistis Pawukon ini membentuk denyut nadi dari jutaan upacara pura (Piodalan) yang mengawal keseimbangan alam semesta menurut penganut ajaran Hindu Dharma di tanah dewata.

Di belahan struktur yang lain, sisi lunisolar dari Kalender Saka mendikte ritme agung upacara kosmis terbesar rakyat Bali, yakni perayaan Nyepi. Bertindak sebagai gerbang Tahun Baru Saka, Nyepi selalu ditetapkan pada "Penanggal Pisan Sasih Kedasa" (tanggal satu bulan kesepuluh), merayakan momen keheningan massal dan memutus siklus material selama sehari penuh untuk detoksifikasi spritual bumi. Dengan menggunakan tumpeng ganda penanggalan Pawukon dan Saka yang tercetak setiap lembar di rumah-rumah penduduk Bali, sistem penanggalan Bali tidak ubahnya laksana partitur simfoni, di mana setiap frekuensi dewa-dewi, roh, setan, dan manusia digetarkan pada harmoni ritual hari-hari baik (Dewasa Ayu) yang melestarikan kosmologi keagungan dan magisnya kebudayaan nusantara secara berkelanjutan.